Filsafat
sebagai induk ilmu pengetahuan hadir kembali di tengah-tengah
perkembangan IPTEK yang telah begitu plural. Adapun kepentingan yang
begitu mendesak ini adalah meluruskan arah proses perkembangan ilmu
pengetahuan dan teknologi, khususnya arah pemanfaatannya.
Filsafat
ilmu pengetahuan adalah suatu bidang studi mengenai ilmu pengetahuan.
Hal ini, karena filsafat itu adalah ilmu pengetahuan yang selalu mencari
hakekat, berarti filsafat ilmu pngetahuan berusaha mencari
“keseragaman” daripada “keanekaragaman” ilmu pengetahuan.
Farmasi
sebagai seni dan ilmu dalam penyediaan obat dari bahan alam, dan bahan
sintetis yang sesuai untuk didistribusikan, dan digunakan dalam
pengobatan dan pencegahan penyakit, hadir di tengah-tengah pluralitas
ilmu pengetahuan. Kehadirannya sebagai disiplin ilmu pengetahuan yang
teoritis sampai pada yang praktis teknologis diharapkan senantiasa
mengalami pencerahan sesuai tujuan awal dari keberadaannya.
Melihat
adanya fenomena yang di dalam proses perkembangannya, farmasi mengalami
pergeseran nilai, sehingga diperlukan sebuah rekonstruksi dalam
perspektif filsafat ilmu pengetahuan.
Farmasi dalam paradigma ontologis
Sudah
menjadi pendapat umum bahwa filsafat adalah induk/ibu dari segala macam
ilmu pengetahuan. Dengan demikian dapat dipahami bahwa ilmu pengetahuan
pada mulanya hanya ada satu yaitu filsafat. Akan tetapi karena filsafat
yang memang hanya mempersoalkan hal-hal yang umum, abstrak dan
universal, maka ia semakin tidak mampu menjawab persoalan-persoalan
hidup yang konkret, positif praktis dan pragmatis.
Melihat
kenyataan di atas, berkembang berbagai jenis ilmu pengetahuan khusus
menurut objek studinya masing-masing, seperti ilmu pengetahuan
humaniora, ilmu pengetahuan sosial, ilmu pengetahuan agama, dan ilmu
pengetahuan alam. Sedangkan secara kualitatif jenis-jenis ilmu
pengetahuan itu berkembang sifatnya mulai dari yang teoritis sampai pada
yang praktis teknologis.
Farmasi
ditinjau dari kelahirannya hingga perkembangannya tidak dapat
dilepaskan dari kelahiran dan perkembangan ilmu pengetahuan secara
universal yang pondasinya dibangun oleh dua entitas, yakni filsafat
moral dan filsafat alam.
Filsafat moral melahirkan Behavior Sciences
atau ilmu-ilmu tentang prilaku manusia. Oleh karena manusia itu memang
merupakan objek istimewa bagi penyelidikannya sendiri, maka mungkin juga
diselidiki dari sudut tingkah lakunya, bukanlah tindakan yang sesuai
dengan tingkah yang lain-lain yang bukan manusia, melainkan yang khusus
bagi manusia, yaitu tindakan-tindakan yang terdorong oleh kehendaknya
diterangi oleh budinya (moralnya).
Sedangkan
dalam filsafat alam (cosmologia), menyelidiki alam ini, yang oleh
filsafat alam dicari inti alam itu, apakah sebenarnya alam itu, apakah
sebenarnya isi alam pada umumnya, dan apa hubungannya satu sama lain
serta hubungannya dengan ada-mutlak. Alam ini merupakn ada yang tidak
mutlak, karena adanya tidak dengan niscaya. Segala isi alam dengan
adanya sendiri itu mungkin banyak tak ada. Tetapi dalam alam itu adalah
sesuatu yang mempunyai kedudukan istimewa, yang menyelidiki semua itu :
Manusia (Human Being).
Penyelidikan terhadap alam melahirkan berbagai cabang ilmu ke dalam ilmu-ilmu sebagai Pure Sciences
yakni Fisika, Biologi, Kimia, dan Matematika. Keempat ilmu alam itu
merupakan kerangka dasar yang membangun ilmu-ilmu terapan yang berbasis
kealaman seperti ilmu kesehatan, ilmu teknik, ilmu pertanian, dan lain
sebagainya.
Farmasi ditinjau dari objek materinya, memiliki kerangka dasar dari ilmu-ilmu alam; Kimia, Biologi, Fisika dan Matematika.
Sedangkan ilmu farmasi ditinjau dari objek formalnya merupakan ruang
lingkup dari ilmu-ilmu kesehatan. Secara historis ilmu farmasi
dikembangkan dari medical sciences, yang berdasarkan kebutuhan
yang mendesak perlunya pemisahan ilmu farmasi sebagai ilmu pengobatan
dari ilmu kedokteran sebagai ilmu tentang diagnosis.
Adalah
Hipocrates (460-357 SM) yang merupakan peletak dasar ilmu kedokteran
mencetuskan ide pemilahan farmasi dari kedokteran dengan mencetukan
simbol farmasi dan kedokteran secara terpisah. Namun yang sangat
mengesankan, dan telah dijadikan tonggak kelahiran farmasi adalah ketika
Kaisar Frederik II pada tahun 1240 mengeluarkan undang-undang negara
tentang pemisahan farmasi dari kedokteran yang diajarkan dan
dipraktekkan secara terpisah.
Ilmu
farmasi pada perkembangan selanjutnya mengadopsi tidak hanya ilmu
kimia, biologi, fisika, dan matematika, melainkan termasuk pula dari
ilmu-ilmu terapan seperti pertanian, teknik, ilmu kesehatan, bahkan dari
behavior science.
Farmasi dalam paradigma epistemologi
Secara umum farmasi terdiri dari farmasi teoritis dan farmasi praktis. Farmasi secara teoritis dibangun oleh beberapa cabang ilmu pengetahuan, yang secara garis besarnya terdiri dari farmasi fisika, kimia farmasi, farmasetika, dan farmasi sosial. Selanjutnya farmasi praktis terdiri dari dua bagian besar yakni farmasi industri, dan farmasi pelayanan.
Pertama,
Farmasi Industri adalah ruang lingkup penerapan ilmu-ilmu farmasi
teoritis, dan tempat pengabdian bagi ahli-ahli farmasi (farmasis) yang
berorientasi pada produksi bahan baku obat, dan obat jadi, dan
perkembangan selanjutnya juga meliputi kosmetika dan makanan-minuman.
Dalam farmasi dikenal adanya industri farmasi yang menghasilkan produk farmasi moderen yang bahan bakunya merupakan bahan baku sintetis, dan industri obat tradisional yang memproduksi obat-obatan dengan menggunakan bahan alam sebagai bahan baku yang menghasilkan obat Fitofarmaka,
baik industri farmasi maupun industri obat tradisional kesemuanya
berorientasi pada produk farmasi berkualitas, yakni aman, manjur, harga
terjangkau dan tidak merusak ekosistem lingkungan ekologis.
Kedua,
Farmasi Pelayanan yakni pengabdian disiplin ilmu farmasi
(farmasis/apoteker) pada unit-unit pelayanan kesehatan (apotek, rumah
sakit, badan pengawasan, dan unit-unit kesehatan lainnya). Pengabdian
farmasis/apoteker pada farmasi pelayanan meliputi distribusi
obat-obatan dari industri farmasi hingga ke unit-unit pelayanan
kesehatan, pelayanan informasi obat terhadap masyarakat dan
tenaga-tenaga paramedis, dan monitoring penggunaan obat oleh masyarakat
dan terhadap penderita (pasien). Peranan farmasis/apoteker di unit-unit
pelayanan kesehatan menjadi sangat penting, dan berorientasi pada
pemberian obat rasional empirik, yakni pemberian obat yang tepat dosis,
tepat pasien, tepat indikasi, dan harga terjangkau.
Farmasi industri dan farmasi pelayanan saling terkait, dan berinteraksi antara satu sama lain dalam satu orientasi, yakni health orientation,
untuk seluruh lapisan masyarakat tanpa kecuali. Farmais/apoteker di
dalam menjalankan pengabdiannya di bidang kefarmasian diikat oleh sebuah
etika yang disebut kode etik apoteker (etika farmasi).
Farmasi dalam paradigma etika
Pemberdayaan
farmasi dalam bidang pengabdian kesehatan tidak hanya terbatas pada
bagaimana meningkatkan derajat kesehatan masyarakat, tetapi harus
bernuansa lebih luas, yaitu bagaimana meningkatkan kualitas SDM dan kualits kehidupan,
maka peranan farmasi hendaknya bukan hanya terbatas pada bagaimana
menemukan obat, tetapi jauh lebih kedepan bagaimana mengembangkannya dan
membantu masyarakat agar mereka mau dan mampu menjaga kesehatannya
dengan baik serta menjadikan industri farmasi dan unit-unit pelayanan
kefarmsian sebagai sarana untuk meningkatkan derajat kehidupan dan
penghidupan yang layak bagi sebagian besar masyarakat dan ummat manusia
seluruhnya.
Mengingat
bahwa tingkat kemampuan masyarakat sangat bervariasi, selain
menyebabkan bervariasinya penyakit yang diderita dan yang paling penting
adalah kemampuan mereka untuk membayar biaya kesehatan juga sangat
bervariasi. Hal ini merupakan tantangan tersendiri bagi
farmasis/apoteker untuk pemberian alternatif obat-obatan yang dapat
memenuhi tuntutan masyarakat sehingga seluruh masyarakat dapat terlayani
dengan baik, terutama masyarakat yang berpendapatan rendah.
Untuk
hal tersebut di atas, sangat dibutuhkan kerjasama antara
farmasis/apoteker dengan pihak-pihak terkait (interdisipliner), dan
didukung oleh wawasan luas yang berorientasi pada kesehatan yang
paripurna dan hedonistik, produktif manusiawi, serta berwawasan
lingkungan yang ekologis, bernuansa pada kesejakteraan yang universal.
Dengan
perspektif filsafat ilmu pengetahuan maka telaah farmasi sebagai sebuah
cabang ilmu pengetahuan dapat memberikan pencerahan bagi arah
perkembangan farmasi kini dan masa datang. Penyelenggara pendidikan
farmasi memiliki peran yang eksklusif dalam menentukan visi pengabdian
farmasis/apoteker bagi kemaslahatan ummat manusia. Kurikulum pendidikan
farmasi harus segera direvisi yang tidak hanya melahirkan tenaga ahli
dibidang kefarmasian yang berdaya intelektual, tapi juga berdaya moral.
Farmasis/apoteker
yang berdaya intelektual dan berdaya moral haruslah menjunjung tinggi
nilai-nilai keadilan dan nilai kejujuran dalam menjalankan profesinya.
Setiap keputusan yang diambil, pilihan yang ditentukan, penilaian yang
dibuat hendaknya selalu mengandung dimensi etika. Khusus dalam bidang
pelayanan kefarmasian penulis ingin menggaris bawahi bahwa sarana
pelayanan harus mngikuti paradigma asuhan kefarmasian dimana
farmasis/apoteker harus ada di tempat.
Di
lain pihak patut dicermati bahwa minat penyelenggara pendidikan tinggi
baik negeri maupun swasta di Indonesia cukup tinggi. Sesuai data ISFI
tahun 2006 tercatat 60 perguruan tinggi di Indonesia yang mengelola
pendidikan farmasi dengan jumlah luaran kurang lebih 20.000 Apoteker
hingga tahun 2007. Penulis berharap kiranya kecenderungan ini tidak
justru karena ‘pangsa pasarnya’ yang memang cukup banyak diminati. Akan
tetapi, kecenderungan ini hendaknya berangkat dari itikat turut
mendorong dalam mengembangkan kefarmasian di segala bidang.
FARMASI DALAM PERSPEKIF FILSAFAT ILMU PENGETAHUAN
Posted by THE RIANDA on Wednesday, 28 November 2012
Bagaimana sih sejarah dan perkembangan Farmasi ???
Dari zaman Hippocrates (460-370 SM) yang dikenal sebagai "Bapak Kedokteran", belum dikenal profesi Farmasi. Seorang dokter yang penyakit mendignosis, juga juga merupakan "Apoteker" yang menyiapkan obat. Semakin lama masalah penyediaan obat semakin rumit, baik formula atau manufaktur, sehingga dibutuhkan adanya keterampilan yang terpisah. Pada tahun 1240 Masehi, Raja Frederick II memerintahkan pemisahan Jerman resmi antara Farmasi dan Kedokteran dalam Surat Keputusan yang terkenal "Dua Silices". Dari sejarah ini, satu hal untuk merenungkan adalah bahwa akar ilmu farmasi dan ilmu kedokteran adalah sama. Dampak revolusi industri menyapu dunia industri farmasi dengan munculnya obat-industri, sehingga terpisahlah kegiatan di bidang industri obat farmasi dan di bidang "penyedia / peracik" obat (= apotek). Dalam hal ini keahlian farmasi sangat dibutuhkan dalam industri farmasi dari apotek. Dapat dikatakan bahwa teknologi manufaktur obat farmasi identik.
Farmasi pendidikan berkembang seiring dengan pola untuk pengembangan teknologi mampu menghasilkan produk obat yang memenuhi persyaratan dan kebutuhan. kurikulum pendidikan Farmasi dikembangkan lebih ke arah teknologi pembuatan obat untuk menunjang keberhasilan siswa mereka dalam melaksanakan tugas profesi. Ilmu farmasi awalnya dikembangkan dari dokter dan obat tradisional yang berkembang di Yunani, Timur Tengah, Asia Kecil, Cina dan Wilayah Asia lainnya. Pada awalnya "obat" dimiliki oleh orang tertentu oleh generasi keluarganya. Jika Anda sering menonton film Cina, pasti banyak dari kalian melihat dokter yang mendapatkan pengetahuan mereka dari keluarga selama beberapa generasi. Bahwa gambar dari "ilmu farmasi" kuno di Cina. Ketika di Yunani, yang biasanya dianggap sebagai penyembuh adalah seorang pendeta. Dalam legenda Yunani kuno, Asclepius, dewa ditugaskan Hygieia Pengobatan untuk meracik campuran obat yang ia telah dibuat. Nah, oleh orang Yunani dia disebut sebgai apoteker (Inggris: apotik). Sedangkan di Mesir, paktek farmasi dibagi menjadi dua pekerjaan, yaitu: Apa yang mengunjungi orang sakit dan bekerja di kuil menyiapkan ramuan obat. Buku tentang bahan obat2an pertama kali ditulis di Cina sekitar 2735 SM, lalu berdiri sekitar 400 tahun SM sekolah kedokteran di Yunani. Salah satu muridnya adalah Hippocrates dokter yang menaruh profesi di tingkat etika yang tinggi. Ilmu farmasi secara perlahan berkembang. Dalam dunia Arab pada abad kedelapan, ilmu farmasi yang dikembangkan oleh ilmuawan Arab menyebar ke Eropa. Pada saat ini peran mulai membedakan antara dukun medis dengan terjadi pada 1240 ketika Kaisar Frederick II dari Roma melakukan pemisahan. Pemberitahuan yang dikeluarkan tentang pemisahan negara-negara yang memiliki pengetahuan keinsyafan masing2 ahli, standar etika, pengetahuan, dan keterampilan sendiri yang berbeda dari ilmu-ilmu lainnya. Dengan rilis ini dekrit kekaisaran, maka mulailah sejarah baru perkembangan ilmu farmasi sebagai ilmu sendiri.
Perkembangan ilmu farmasi dan kemudian menyebar ke hampir seluruh dunia. Mulai Inggris, Amerika Serikat dan Eropa Barat. College Farmasi yang pertama didirikan di Philadelphia, Amerika Serikat pada tahun 1821 (sekolah sekarang disebut College Philadelphia Farmasi dan Ilmu Pengetahuan). Setelah itu, memulai era baru dengan munculnya ilmu farmasi sekolah tinggi dan fakultas2 di universitas.
Peran organisasi profesional atau ilmiah juga ditentukan perkembangan ilmu farmasi. Sekarang banyak organisasi apoteker baik secara nasional dan internasional. Di Inggris, organisasi profesi pertama kali didirikan pada tahun 1841 dengan nama "The Pharmaceutical Society of Great Britain". Sementara itu, di Amerika Serikat setelah 11 tahun kemudian dengan nama "American Pharmaceutical Association." Akhirnya organisasi internasional yang didirikan pada tahun 1910 dengan nama 'Federasi Farmasi Internasional. "
Sejarah industri farmasi modern dimulai pada tahun 1897 ketika Felix Hoffman menemukan cara menambahkan dua atom ekstra karbon dan lima atom ekstra karbon dan lima atom ekstra hidrogen ke adlam sari pati kulit kayu willow. Hasil penemuan ini dikenal sebagai aspirin, yang akhirnya menyebabkan lahirnya perusahaan industri modern farmasi di dunia, yaitu Bayer. Selain itu, pengembangan (R & D) pasca Perang Dunia I. Kemudian, selama Perang Dunia II, para ahli mencoba mencari obat dalam jumlah besar, seperti obat TBC, hormaon steroid, dan kontrasepsi dan antipsikotika.
Sejak itu, dunia farmasi (industri & pendidikan) terus tumbuh, didukung oleh temuan di daerah lain, seperti penggunaan bioteknologi. Farmasi sekolah saat ini hampir ditemukan di seluruh dunia. kiblat pengembangan ilmu pengetahuan, jika kita sebut bolehh, memang Amerika Serikat dan Jerman (karena di situlah industri obat pertama berdiri).
Dilihat dari sisi pendidikan farmasi, di Indonesia mayoritas farmasi belum merupakan bidang yang terpisah namun termasuk dalam bidang Sains dan Matematika (Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam), yang merupakan kelompok ilmu murni (ilmu dasar) sehingga lulusan S1 yang tidak diketahui, tetapi gelar Bachelor of Science di Farmasi. Buku Farmasi menyatakan buku pegangan bahwa apotek adalah bidang yang melibatkan semua aspek obat, meliputi: isolasi / sintesis, pembuatan, kontrol, distribusi dan penggunaan.
Silverman dan Lee (1974) dalam bukunya, "Pills, Laba dan Politik", menyatakan bahwa: 1. Pharmatcis yang memainkan peran penting dalam membantu dokter resep rasional. Membanu melihat bahwa obat yang tepat, pada saat yang tepat, dalam jumlah yang benar, membuat pasien tahu mengenai "bagaimana, kapan, mengapa" penggunaan obat baik dengan atau tanpa resep. 2. Apoteker adalah pakart sangat handal dan terlatih dalam hal produk / produksi obat yang memiliki peluang terbesar untuk mengikuti perkembangan terbaru di bidang kedokteran, yang dapat melayani baik dokter dan pasien, sebagai "penasehat" yang berpengalaman. 3. posisi Apoteker adalah bahwa Brasil adalah kunci dalam mencegah penggunaan obat yang salah, penyalahgunaan obat resep dan tidak rasional.
Sementara Herfindal dalam bukunya "Clinical Pharmacology and Therapeutics" (1992) menyatakan bahwa Pharmacist harus memberikan "Therapeutic Judgment" daripada hanya sebagai sumber informasi obat.
Melihat hal di atas, maka terlihat adanya sebuah kebingungan tentang posisi farmasi. Di mana lokasi sebenarnya dari apotek? di jajaran teknologi, ilmu pengetahuan murni, kedokteran atau berdiri sendiri? kebingungan dalam hal posisi farmasi akan membingungkan para penyelenggara pendidikan farmasi, kurikulum apa yang harus disajikan; siswa bingung menyerap materi yang semakin "gunung" dan bingung adalah lulusan (yang masih "baru"), yang bukan 'menguasai "apapun.
Di Inggris, sejak tahun 1962, memulai sebuah era baru dalam pendidikan farmasi, pendidikan farmasi yang semula akan menjadi bagian dari MIPA, berubah menjadi bidang yang berdiri sendiri dalam mengembangkan utuh.rofesi farmasi menuju "berorientasi pasien", pengembangan memuculkan dari Ward Pharmacy (farmasi bangsal) atau Clinical Pharmacy (Farmasi klinik.)
Di Amerika Serikat telah diakui sejak 1963 bahwa profesional publik dan lainnya membutuhkan informasi tentang obat-obatan harus datang dari apoteker. Temuan dari pernyataan tahun 1975 dokter mengungkapkan bahwa apoteker adalah informasi obat yang "parah", tidak mampu memenuhi kebutuhan para dokter akan berkualits Apoteker informasi obat dianggap sangat jarang / langka, bahkan mengatakan bahwa dibandingkan dengan apotekeer, medis perwakilan dari industri farmasi merupakan sumber informasi obat bahkan lebih untuk dokter.
Perkembangan terakhir adalah munculnya konsep "Pharmaceutical Care" yang membawa para praktisi maupun sebagai "profesor" ke "wilayah" pasien. Secara global terlihat perubahan positif dalam aliran farmasi terhadap akar-akarnya awalnya bernama sebagai mitra dalam pelayanan di dokter pasien. Apoteker diharapkan setidaknya bisa menjadi sumber informasi obat baik bagi profesional kesehatan masyarakat dan lain baik di rumah sakit, apotek atau apoteker dimanapun berada.
1. Sejarah Farmasi di Indonesia
Departemen Tenaga Kerja Republik Indonesia (1997) di "kantor informasi untuk standar kompetensi kerja" disebutkan posisi Insinyur Kimia Farmasi, (yang termasuk sektor kesehatan) untuk posisi yang erat terkait dengan obat-obatan, dengan ketentuan sebagai berikut: Sarjana pendidikan Farmasi. Dilihat dari sisi pendidikan farmasi, di Indonesia mayoritas farmasi belum merupakan bidang yang terpisah namun termasuk dalam bidang Sains dan Matematika (Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam), yang merupakan kelompok ilmu murni (ilmu dasar) sehingga lulusan S1 yang tidak diketahui, tetapi gelar Bachelor of Science di Farmasi.
Bagaimana dengan perkembangan farmasi di Indonesia? pengembangan Farmasi arguably dimulai ketika berdirinya pabrik kina di Bandung pada tahun 1896. Lalu, terus berjalan sampai sekitar tahun 1950 di mana pemerintah jadi impor produk farmasi ke Indoneisa. Perusahaan lokal yang bermunculan, ada Kimia Farma, Indofarma, Dankos, dan lainnya. Dalam dunia pendidikan sendiri, sekolah menengah atau sekolah farmasi juga dibuka di berbagai kota.
IV. Pengembangan Ilmu Farmasi / Farmasi
1. Umum 1. Definisi Farmasi Profesional
profesi Farmasi nerupakan profesi yang berkaitan dengan seni dan ilmu dalam hal penyediaan dan pengolahan bahan sumber daya alam dan bahan sintetis cocok dan menyenangkan untuk didistribusikan dan digunakan dalam pengobatan dan pencegahan penyakit.
1. Definisi farmasi
Farmasi adalah ilmu yang mempelajari bagaimana membuat, campuran, campuran, merumuskan, mengobinasi, menganalisis, dan standarisasi obat-obatan dan perawatan juga sifat obat dan distribusinya dan penggunaannya dalam aman.Farmasi dalam bahasa Yunani (bahasa Yunani) farmakon disebut yang berarti Medika atau obat-obatan.
1. Definisi Apoteker
Apoteker adalah seorang ahli dalam bidang farmasi sebagai disebutpada definisi di atas.
1. Farmasi Karir
karir Farmasi mencakup
1. Masyarakat farmasi; 2. Farmasi rumah sakit; 3. Farmasi tengkulak 4. Industri farmasi; 5. Farmasi jasa; 6. Farmasi Pendidikan; 7. Farnasi manajemen.
V. Kurikulum Pendidikan Farmasi
Farmasi kurikulum pendidikan berdasarkan ilmu
1. Farmakologi adalah ilmu yang mempelajari sejarah, khaiat narkoba di semua aspek, termasuk sumber, sifat kimia, sifat fisik, fisiologis kgiatan / fungsi biokimia dan pengaruhnya terhadap fisiologi, kejahatan jalan, penyerapan, nasib (distribus, biotransformasi), ekskresi dalam tubuh , dan toksitnya efek, dan penggunaannya dalam pengobatan. Cabang farmakologi, yaitu
a) Farmakognosi adalah studi tentang obat dari sumber alam, terutama dari tanaman (bentuk makroskopis dan mikroskopis tanaman dan organime lainnya yang dapat digunakan dalam pengobatan).
b) mempelajari ilmi aktivitas obat farmakodinamik / cara kerja obat, efek obat terhadap fungsi berbagai organ dan pengaruh obat pada reaksi biokimia dan struktur organ
c) Farmakokinetk adalah studi penyerapan, distribusi, metabolisme (biotransformasi) dan ekskresi obat
d) farmakoterapi adalah studi tentang penggunaan obat dalam pengobatan penyakit.
e) Toksikologi adalah ilmu yang mempelajari zat beracun dengan sifat dan cara-cara untuk mengenali / mengidentifikasi dan menahan efek.
1. Farmasi kimia (organik dan anorganik) adalah studi analisis kuantitatif dan senyawa kaulitatif kimia, baik dari kelompok organik (alifatik, aromatik, alisiklik, heterosiklik) akan juga anorganik yang berkaitan dengan sifat dan penggunaannya sebagai obat.
1. Farmasi / Farmasi adalah studi tentang bagaimana ketentuan koleksi obat.Meliputi, identifikasi, pelestarian, dan standardisasi obat bahan; seni peracikan obat-obatan, serta pembuatan sediaan farmasi menjadi bentuk tertentu hingga siap untuk digunakan sebagai obat, serta pengembangan obat yang mencakup ilmu pengetahuan dan teknologi dalam pembuatan bentuk sediaan obat yang dapat digunakan dan diberikan kepada pasien. 2. Teknologi Farmasi adalah ilmu yang berkaitan dengan teknik dan prosedur untuk pembuatan obat-obatan pada skala industri, termasuk prinsip kerja perawatan serata / pemeliharaan peralatan produksi dan pendukung yang diperlukan Good Manufacturing Process (GMP). 3. farmasi Dispensa adalah ilmu dan seni dispensing entuk obat terkonsentrasi pada saham tertentu hingga siap untuk digunakan sebagai obat. 4. Farmasi Fisika adalah studi analisis kualitatif dan kuantitatif senyawa organik dan anorganik yang terkait dengan sifat fisik, seperti spektrometri massa spoktrometri, dan spektrofotometri kromatografi.Jenis-jenis yang tercantum dalam Farmakope Indonesia yaitu spektrofotometri inframerah, spektrofotometri ultraviolet dan cahaya tampak, spektrofotometri spektrometri fluoresensi atom, dll 5. Biofarmasetika adalah studi tentang pengaruh formulasi pada aktivitas terapeutik dan produk obat. 6. kegiatan farmasi klinis mencakup pemantauan peggunaan yang Oba, efek samping obat memonitori, dan konseling kgiatan informasi / obat bagi yang membutuhkan. 7. Farmasi Biologi adalah studi tentang dasar-dasar organisme kehidupn; peranan biologis dalam kesehatan, baik secara langsung maupun tidak langsung mempengaruhi kehidupan manusia, sera morfologi, anatomi, dan taksonomi tumbuhan dan hewan 8. Farmasi administrasi, manajemen farmasi, dan masalahnya adalah studi tentang masalah administrasi, manajemen dan brhubungan dengan aspek bidang industri farmasi tersebut kewirausahaan aspeknya. rizki 18:31:00 New Google SEO Bandung, Indonesia
Dari zaman Hippocrates (460-370 SM) yang dikenal sebagai "Bapak Kedokteran", belum dikenal profesi Farmasi. Seorang dokter yang penyakit mendignosis, juga juga merupakan "Apoteker" yang menyiapkan obat. Semakin lama masalah penyediaan obat semakin rumit, baik formula atau manufaktur, sehingga dibutuhkan adanya keterampilan yang terpisah. Pada tahun 1240 Masehi, Raja Frederick II memerintahkan pemisahan Jerman resmi antara Farmasi dan Kedokteran dalam Surat Keputusan yang terkenal "Dua Silices". Dari sejarah ini, satu hal untuk merenungkan adalah bahwa akar ilmu farmasi dan ilmu kedokteran adalah sama. Dampak revolusi industri menyapu dunia industri farmasi dengan munculnya obat-industri, sehingga terpisahlah kegiatan di bidang industri obat farmasi dan di bidang "penyedia / peracik" obat (= apotek). Dalam hal ini keahlian farmasi sangat dibutuhkan dalam industri farmasi dari apotek. Dapat dikatakan bahwa teknologi manufaktur obat farmasi identik.
Farmasi pendidikan berkembang seiring dengan pola untuk pengembangan teknologi mampu menghasilkan produk obat yang memenuhi persyaratan dan kebutuhan. kurikulum pendidikan Farmasi dikembangkan lebih ke arah teknologi pembuatan obat untuk menunjang keberhasilan siswa mereka dalam melaksanakan tugas profesi. Ilmu farmasi awalnya dikembangkan dari dokter dan obat tradisional yang berkembang di Yunani, Timur Tengah, Asia Kecil, Cina dan Wilayah Asia lainnya. Pada awalnya "obat" dimiliki oleh orang tertentu oleh generasi keluarganya. Jika Anda sering menonton film Cina, pasti banyak dari kalian melihat dokter yang mendapatkan pengetahuan mereka dari keluarga selama beberapa generasi. Bahwa gambar dari "ilmu farmasi" kuno di Cina. Ketika di Yunani, yang biasanya dianggap sebagai penyembuh adalah seorang pendeta. Dalam legenda Yunani kuno, Asclepius, dewa ditugaskan Hygieia Pengobatan untuk meracik campuran obat yang ia telah dibuat. Nah, oleh orang Yunani dia disebut sebgai apoteker (Inggris: apotik). Sedangkan di Mesir, paktek farmasi dibagi menjadi dua pekerjaan, yaitu: Apa yang mengunjungi orang sakit dan bekerja di kuil menyiapkan ramuan obat. Buku tentang bahan obat2an pertama kali ditulis di Cina sekitar 2735 SM, lalu berdiri sekitar 400 tahun SM sekolah kedokteran di Yunani. Salah satu muridnya adalah Hippocrates dokter yang menaruh profesi di tingkat etika yang tinggi. Ilmu farmasi secara perlahan berkembang. Dalam dunia Arab pada abad kedelapan, ilmu farmasi yang dikembangkan oleh ilmuawan Arab menyebar ke Eropa. Pada saat ini peran mulai membedakan antara dukun medis dengan terjadi pada 1240 ketika Kaisar Frederick II dari Roma melakukan pemisahan. Pemberitahuan yang dikeluarkan tentang pemisahan negara-negara yang memiliki pengetahuan keinsyafan masing2 ahli, standar etika, pengetahuan, dan keterampilan sendiri yang berbeda dari ilmu-ilmu lainnya. Dengan rilis ini dekrit kekaisaran, maka mulailah sejarah baru perkembangan ilmu farmasi sebagai ilmu sendiri.
Perkembangan ilmu farmasi dan kemudian menyebar ke hampir seluruh dunia. Mulai Inggris, Amerika Serikat dan Eropa Barat. College Farmasi yang pertama didirikan di Philadelphia, Amerika Serikat pada tahun 1821 (sekolah sekarang disebut College Philadelphia Farmasi dan Ilmu Pengetahuan). Setelah itu, memulai era baru dengan munculnya ilmu farmasi sekolah tinggi dan fakultas2 di universitas.
Peran organisasi profesional atau ilmiah juga ditentukan perkembangan ilmu farmasi. Sekarang banyak organisasi apoteker baik secara nasional dan internasional. Di Inggris, organisasi profesi pertama kali didirikan pada tahun 1841 dengan nama "The Pharmaceutical Society of Great Britain". Sementara itu, di Amerika Serikat setelah 11 tahun kemudian dengan nama "American Pharmaceutical Association." Akhirnya organisasi internasional yang didirikan pada tahun 1910 dengan nama 'Federasi Farmasi Internasional. "
Sejarah industri farmasi modern dimulai pada tahun 1897 ketika Felix Hoffman menemukan cara menambahkan dua atom ekstra karbon dan lima atom ekstra karbon dan lima atom ekstra hidrogen ke adlam sari pati kulit kayu willow. Hasil penemuan ini dikenal sebagai aspirin, yang akhirnya menyebabkan lahirnya perusahaan industri modern farmasi di dunia, yaitu Bayer. Selain itu, pengembangan (R & D) pasca Perang Dunia I. Kemudian, selama Perang Dunia II, para ahli mencoba mencari obat dalam jumlah besar, seperti obat TBC, hormaon steroid, dan kontrasepsi dan antipsikotika.
Sejak itu, dunia farmasi (industri & pendidikan) terus tumbuh, didukung oleh temuan di daerah lain, seperti penggunaan bioteknologi. Farmasi sekolah saat ini hampir ditemukan di seluruh dunia. kiblat pengembangan ilmu pengetahuan, jika kita sebut bolehh, memang Amerika Serikat dan Jerman (karena di situlah industri obat pertama berdiri).
Dilihat dari sisi pendidikan farmasi, di Indonesia mayoritas farmasi belum merupakan bidang yang terpisah namun termasuk dalam bidang Sains dan Matematika (Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam), yang merupakan kelompok ilmu murni (ilmu dasar) sehingga lulusan S1 yang tidak diketahui, tetapi gelar Bachelor of Science di Farmasi. Buku Farmasi menyatakan buku pegangan bahwa apotek adalah bidang yang melibatkan semua aspek obat, meliputi: isolasi / sintesis, pembuatan, kontrol, distribusi dan penggunaan.
Silverman dan Lee (1974) dalam bukunya, "Pills, Laba dan Politik", menyatakan bahwa: 1. Pharmatcis yang memainkan peran penting dalam membantu dokter resep rasional. Membanu melihat bahwa obat yang tepat, pada saat yang tepat, dalam jumlah yang benar, membuat pasien tahu mengenai "bagaimana, kapan, mengapa" penggunaan obat baik dengan atau tanpa resep. 2. Apoteker adalah pakart sangat handal dan terlatih dalam hal produk / produksi obat yang memiliki peluang terbesar untuk mengikuti perkembangan terbaru di bidang kedokteran, yang dapat melayani baik dokter dan pasien, sebagai "penasehat" yang berpengalaman. 3. posisi Apoteker adalah bahwa Brasil adalah kunci dalam mencegah penggunaan obat yang salah, penyalahgunaan obat resep dan tidak rasional.
Sementara Herfindal dalam bukunya "Clinical Pharmacology and Therapeutics" (1992) menyatakan bahwa Pharmacist harus memberikan "Therapeutic Judgment" daripada hanya sebagai sumber informasi obat.
Melihat hal di atas, maka terlihat adanya sebuah kebingungan tentang posisi farmasi. Di mana lokasi sebenarnya dari apotek? di jajaran teknologi, ilmu pengetahuan murni, kedokteran atau berdiri sendiri? kebingungan dalam hal posisi farmasi akan membingungkan para penyelenggara pendidikan farmasi, kurikulum apa yang harus disajikan; siswa bingung menyerap materi yang semakin "gunung" dan bingung adalah lulusan (yang masih "baru"), yang bukan 'menguasai "apapun.
Di Inggris, sejak tahun 1962, memulai sebuah era baru dalam pendidikan farmasi, pendidikan farmasi yang semula akan menjadi bagian dari MIPA, berubah menjadi bidang yang berdiri sendiri dalam mengembangkan utuh.rofesi farmasi menuju "berorientasi pasien", pengembangan memuculkan dari Ward Pharmacy (farmasi bangsal) atau Clinical Pharmacy (Farmasi klinik.)
Di Amerika Serikat telah diakui sejak 1963 bahwa profesional publik dan lainnya membutuhkan informasi tentang obat-obatan harus datang dari apoteker. Temuan dari pernyataan tahun 1975 dokter mengungkapkan bahwa apoteker adalah informasi obat yang "parah", tidak mampu memenuhi kebutuhan para dokter akan berkualits Apoteker informasi obat dianggap sangat jarang / langka, bahkan mengatakan bahwa dibandingkan dengan apotekeer, medis perwakilan dari industri farmasi merupakan sumber informasi obat bahkan lebih untuk dokter.
Perkembangan terakhir adalah munculnya konsep "Pharmaceutical Care" yang membawa para praktisi maupun sebagai "profesor" ke "wilayah" pasien. Secara global terlihat perubahan positif dalam aliran farmasi terhadap akar-akarnya awalnya bernama sebagai mitra dalam pelayanan di dokter pasien. Apoteker diharapkan setidaknya bisa menjadi sumber informasi obat baik bagi profesional kesehatan masyarakat dan lain baik di rumah sakit, apotek atau apoteker dimanapun berada.
1. Sejarah Farmasi di Indonesia
Departemen Tenaga Kerja Republik Indonesia (1997) di "kantor informasi untuk standar kompetensi kerja" disebutkan posisi Insinyur Kimia Farmasi, (yang termasuk sektor kesehatan) untuk posisi yang erat terkait dengan obat-obatan, dengan ketentuan sebagai berikut: Sarjana pendidikan Farmasi. Dilihat dari sisi pendidikan farmasi, di Indonesia mayoritas farmasi belum merupakan bidang yang terpisah namun termasuk dalam bidang Sains dan Matematika (Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam), yang merupakan kelompok ilmu murni (ilmu dasar) sehingga lulusan S1 yang tidak diketahui, tetapi gelar Bachelor of Science di Farmasi.
Bagaimana dengan perkembangan farmasi di Indonesia? pengembangan Farmasi arguably dimulai ketika berdirinya pabrik kina di Bandung pada tahun 1896. Lalu, terus berjalan sampai sekitar tahun 1950 di mana pemerintah jadi impor produk farmasi ke Indoneisa. Perusahaan lokal yang bermunculan, ada Kimia Farma, Indofarma, Dankos, dan lainnya. Dalam dunia pendidikan sendiri, sekolah menengah atau sekolah farmasi juga dibuka di berbagai kota.
IV. Pengembangan Ilmu Farmasi / Farmasi
1. Umum 1. Definisi Farmasi Profesional
profesi Farmasi nerupakan profesi yang berkaitan dengan seni dan ilmu dalam hal penyediaan dan pengolahan bahan sumber daya alam dan bahan sintetis cocok dan menyenangkan untuk didistribusikan dan digunakan dalam pengobatan dan pencegahan penyakit.
1. Definisi farmasi
Farmasi adalah ilmu yang mempelajari bagaimana membuat, campuran, campuran, merumuskan, mengobinasi, menganalisis, dan standarisasi obat-obatan dan perawatan juga sifat obat dan distribusinya dan penggunaannya dalam aman.Farmasi dalam bahasa Yunani (bahasa Yunani) farmakon disebut yang berarti Medika atau obat-obatan.
1. Definisi Apoteker
Apoteker adalah seorang ahli dalam bidang farmasi sebagai disebutpada definisi di atas.
1. Farmasi Karir
karir Farmasi mencakup
1. Masyarakat farmasi; 2. Farmasi rumah sakit; 3. Farmasi tengkulak 4. Industri farmasi; 5. Farmasi jasa; 6. Farmasi Pendidikan; 7. Farnasi manajemen.
V. Kurikulum Pendidikan Farmasi
Farmasi kurikulum pendidikan berdasarkan ilmu
1. Farmakologi adalah ilmu yang mempelajari sejarah, khaiat narkoba di semua aspek, termasuk sumber, sifat kimia, sifat fisik, fisiologis kgiatan / fungsi biokimia dan pengaruhnya terhadap fisiologi, kejahatan jalan, penyerapan, nasib (distribus, biotransformasi), ekskresi dalam tubuh , dan toksitnya efek, dan penggunaannya dalam pengobatan. Cabang farmakologi, yaitu
a) Farmakognosi adalah studi tentang obat dari sumber alam, terutama dari tanaman (bentuk makroskopis dan mikroskopis tanaman dan organime lainnya yang dapat digunakan dalam pengobatan).
b) mempelajari ilmi aktivitas obat farmakodinamik / cara kerja obat, efek obat terhadap fungsi berbagai organ dan pengaruh obat pada reaksi biokimia dan struktur organ
c) Farmakokinetk adalah studi penyerapan, distribusi, metabolisme (biotransformasi) dan ekskresi obat
d) farmakoterapi adalah studi tentang penggunaan obat dalam pengobatan penyakit.
e) Toksikologi adalah ilmu yang mempelajari zat beracun dengan sifat dan cara-cara untuk mengenali / mengidentifikasi dan menahan efek.
1. Farmasi kimia (organik dan anorganik) adalah studi analisis kuantitatif dan senyawa kaulitatif kimia, baik dari kelompok organik (alifatik, aromatik, alisiklik, heterosiklik) akan juga anorganik yang berkaitan dengan sifat dan penggunaannya sebagai obat.
1. Farmasi / Farmasi adalah studi tentang bagaimana ketentuan koleksi obat.Meliputi, identifikasi, pelestarian, dan standardisasi obat bahan; seni peracikan obat-obatan, serta pembuatan sediaan farmasi menjadi bentuk tertentu hingga siap untuk digunakan sebagai obat, serta pengembangan obat yang mencakup ilmu pengetahuan dan teknologi dalam pembuatan bentuk sediaan obat yang dapat digunakan dan diberikan kepada pasien. 2. Teknologi Farmasi adalah ilmu yang berkaitan dengan teknik dan prosedur untuk pembuatan obat-obatan pada skala industri, termasuk prinsip kerja perawatan serata / pemeliharaan peralatan produksi dan pendukung yang diperlukan Good Manufacturing Process (GMP). 3. farmasi Dispensa adalah ilmu dan seni dispensing entuk obat terkonsentrasi pada saham tertentu hingga siap untuk digunakan sebagai obat. 4. Farmasi Fisika adalah studi analisis kualitatif dan kuantitatif senyawa organik dan anorganik yang terkait dengan sifat fisik, seperti spektrometri massa spoktrometri, dan spektrofotometri kromatografi.Jenis-jenis yang tercantum dalam Farmakope Indonesia yaitu spektrofotometri inframerah, spektrofotometri ultraviolet dan cahaya tampak, spektrofotometri spektrometri fluoresensi atom, dll 5. Biofarmasetika adalah studi tentang pengaruh formulasi pada aktivitas terapeutik dan produk obat. 6. kegiatan farmasi klinis mencakup pemantauan peggunaan yang Oba, efek samping obat memonitori, dan konseling kgiatan informasi / obat bagi yang membutuhkan. 7. Farmasi Biologi adalah studi tentang dasar-dasar organisme kehidupn; peranan biologis dalam kesehatan, baik secara langsung maupun tidak langsung mempengaruhi kehidupan manusia, sera morfologi, anatomi, dan taksonomi tumbuhan dan hewan 8. Farmasi administrasi, manajemen farmasi, dan masalahnya adalah studi tentang masalah administrasi, manajemen dan brhubungan dengan aspek bidang industri farmasi tersebut kewirausahaan aspeknya. rizki 18:31:00 New Google SEO Bandung, Indonesia


